Kontak

Jurusan Arsitektur ITS
Kampus ITS Sukolilo
Surabaya 60111

Telp. (031) 5927290
(031) 5996972
Fax. (031) 5924301
E-Mail. Arsitektur

 

Berita & Info Terkini

Sidang Terbuka Promosi Doktor "Edward Syarif"

Masyarakat Mariso, Makassar, dalam kegiatan bermukim rupanya dipandang berbeda oleh Edward Syarif, seorang mahasiswa S3 Jurusan Arsitektur. Ia lantas melakukan penelitian dan diwujudkan dalam karya disertasi. Disertasi yang berjudul Perubahan Morfologi Permukiman Tepi Laut Makassar Dalam Transformasi Sosial Masyarakat Mariso, itu juga turut membuatnya berhasil menggondol gelar doktor dengan predikat sangat memuaskan, Kamis (11/2).

Dikatakan Edward, pada lokasi penelitian disertasinya itu terdapat sesuatu yang khas. Pertama, terjadi perubahan area laut menjadi permukiman. Sehingga terbentuklah kelompok-kelompok rumah akibat cara bermukim masyarakat yang bertahun-tahun.


Yang ternyata semua itu diyakini Edward dikarenakan bentuk solidaritas masyarakat setempat. "Lalu timbullah teori bentuk solidaritas yang mempengaruhi morfologi permukiman yang ada di Mariso," paparnya kepada ITS Online.

Mereka yang bermukim, beber Edward, menunjukkan gerak-gerik dan aktivitas yang khas. Terlebih Masyarakat Mariso yang mayoritasnya suka berinteraksi dengan orang lain. Sehingga timbul pola-pola bermukim yang unik dan lain dari biasanya. "Misalnya muncul permukiman yang terintegrasi satu sama lain, itu yang diteliti," ungkapnya.

Diakui pria kelahiran Ujung Pandang 47 tahun silam ini, konsepnya berlaku untuk seluruh wilayah di Indonesia. Tidak terbatas hanya pada tepi laut Makassar ataupun masyarakat Mariso saja. "Saya yakin karena Indonesia itu mayoritas menggunakan prinsip-prinsip kekeluargaan maupun solidaritas," tegas Edward.

Mengapa? Sebab, tambah Edward, kekeluargaan dan solidaritas masih menjadi hal yang utama dan dijunjung tinggi dalam masyarakat. Hingga akhirnya memengaruhi ruang-ruang yang terbentuk di permukiman. "Saya yakin pengembangan teori yang saya temukan ini adalah teori yang kekinian dan khas dan dapat diterapkan," jelasnya.

Selain penerapan dalam pengajaran sebagai dosen di Universitas Hasanuddin, ia juga ingin memberikan berbagai masukan kepada pemerintah setempat dan masyarakat. "Agar kelak tercipta ruang-ruang yang terintegrasi serta berbasis solidaritas budaya masyarakat lokal," tandasnya. (owi/akh)

>>>Galeri Foto Kegiatan


 

Sidang Terbuka Promosi Doktor "Rusli"

Kelurahan Labuan Bajo di Kawasan pesisir Donggala, Sulawesi Tengah, memiliki pemukiman nelayan dengan potensi daya tarik berupa wisata alam dan budaya. Hal inilah yang melatarbelakanginya mengangkat pengembangan kawasan melalui sudut pandang dunia arsitektur.

Menurutnya, hal ini dapat dilihat dari kunjungan wisatawan yang semakin meningkat tiap tahunnya. Namun, fakta menyebutkan masyarakat nelayan di wilayah tersebut umumnya masih berpenghasilan rendah. "Mereka itu kan termiskin di Indonesia. Sementara luas laut kita itu tiga berbanding satu. Bagaimana korelasinya bisa jadi miskin," ungkap dosen Jurusan Arsitektur Universitas Tadulako, Palu ini.

Kondisi tersebut akhirnya mendorong pria berusia 51 tahun ini untuk mendayagunakan ruang dan aktivitas untuk menyatukan kepedulian sosial dan kepedulian ekonomi masyarakat. Baginya, tujuan penelitian yang dilakukannya adalah menemukan keterkaitan antara hubungan dan integrasi ruang pemukiman nelayan dengan ruang ekowisata pesisir.

Dengan begitu, lanjutnya, hasil kajian dapat digunakan untuk mengembangkan potensi ruang pemukiman nelayan. ''Bangsa kita ini apa yang tidak ada? Kita hanya kalah pada perspektif filosofi dan teknologi," papar pria yang telah mengenyam pendidikan di ITS selama hampir 13 tahun tersebut kepada ITS Online.

Ia pun menyebutkan berdasarkan analisis diketahui sebaran ruang perdagangan dan ruang jasa eksisting mempunyai radius 7-45 meter. Untuk industri abon ikan memiliki radius 44-121 meter sedangakan bagi pembuatan minyak kelapa hanya 79,5 meter.

Dari data tersebut, ia meyakini integrasi ruang pemukiman nelayan dengan ekowisata pesisir di Kota Donggala dapat digunakan sebagai alat pengembangan aspek sosial perekonomian dan pengembangan wilayah sesuai potensi setempat.

Hasil penelitian menunjukkan model integrasi ruang pemukiman nelayan dengan ekowisata pesisir dapat dirangkum menjadi empat fungsi ruang. Yaitu ruang aktivitas sosial, ekonomi, jasa, dan industri. Selain itu, modelnya pun dipengaruhi oleh faktor fisik, sosial, dan budaya. (mbi/man)


 

Dies Natalis 50, Arsitektur ITS

Jurusan Arsitektur ITS memasuki usia emas. Pada usia setengah abad, telah banyak kontribusi yang diberikan oleh bagian dari Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ini. Oleh sebab itu, guna memperingati hari jadi jurusan, sivitas akademika Jurusan Arsitektur ITS menggelar berbagai acara selama empat hari sejak Selasa (1/9). Perayaan dies natalis tersebut dibuka oleh Wakil Rektor I ITS, Prof Dr Ir Heru Setyawan MEng.

Dalam sambutannya, Heru menuturkan bahwa perayaan dies natalis ini dapat dijadikan momentum untuk mengapresiasi karya dan memperkuat jaringan para pegiat disiplin ilmu rancang bangun. Perayaan 50 tahun Arsitektur ITS ini dirasa juga cukup istimewa mengingat pelaksanaannya berbarengan dengan perayaan Dies Natalis ITS ke-55. "Saya sangat mengapresiasi perayaan ini, apalagi berbarengan dengan Dies Natalis ITS 55," ujar pria berkacamata ini.

Heru menambahkan, banyak kontribusi yang telah diberikan oleh Jurusan Arsitektur demi kemajuan ITS dan Indonesia. Salah satunya, ialah melahirkan arsitek-arsitek handal yang turut serta dalam menyokong pembangunan nasional.

Jurusan Arsitektur berdiri pada tahun 1965. Kala itu, jurusan ini masih menggunakan nama Fakultas Teknik Arsitektur (FTA) ITS. Dengan kondisi infrastruktur dan fasilitas yang masih minim, FTA dianggap memiliki banyak kekurangan sehingga kurang diminati. Namun seiring berjalannya waktu, pengembangan terus dilakukan hingga akhirnya menjadi salah satu jurusan favorit di ITS dan mengubah namanya menjadi Jurusan Arsitektur ITS.

Ketua Jurusan Arsitektur ITS, Ir Purwanita Setijanti MSc PhD menuturkan, perbedaan antara Jurusan Arsitektur sekarang dengan 50 tahun lalu tak hanya dari segi fasilitas dan jumlah mahasiswa, namun juga konteks belajar mahasiswa. Menurutnya, saat ini dunia makin terbuka, negara-negara hampir tanpa memiliki batas dan persaingan bebas antar bangsa menjadi ciri khas. "Oleh karenanya, Jurusan Arsitektur ITS harus siap menghadapi tantangan baru pada era baru pula," ujarnya.

Gambaran kontekstual yang disebut Purwanita ialah menuntut mahasiswa Jurusan Arsitektur ITS untuk bekerja keras. Tak hanya itu, ia juga mengharapkan agar mahasiswa Jurusan Arsitektur memiliki tekad untuk turut mengembangkan jurusan. "Kepada para mahasiswa, di tanganmu lah masa depan Arsitektur ITS, bangsa, dan negara bergantung. Bersiaplah menyongsong masa depan gemilang," ucapnya seraya mengakhiri sambutan.(owi/ali)

 


 

Gelar Doktor untuk Dosen Jordania

07 August 2015

Jurusan Arsitektur ITS  baru saja memberikan gelar doktor kepada mahasiswa asal Amman Jordania, Jumat(7/8). Mahasiswa tersebut adalah Naser TH A Almughrabi Alhasani seorang dosen dari Al-Ahliyya Amman University (AAU). Dengan judul disertasi  The Improvement of Ideal Geometry and Spatial Planning in The Ottoman Mosque : The Role of Architect Sinan, ia lantas berhasil memukau para komite penguji.

Sebagai Supervisor adalah Prof Dr Ir Josef Prijotomo M Arch dan Co Supervisor Ir Mohammad Faqih MSA PhD. Tak lupa komite penguji disertasi Naser juga berasal dari Negara Turki Prof Jale Erzen dari Middle East Technical University (METU). Serta beberapa dari ITS seperti Dr Eng Ir Dipl Ing Sri Nastiti NE MT, Prof Ir Djauhar Manfaat M Eng PhD, dan Prof Yandi Andri Yatmo ST M Arch PhD.

 

Disertasi ini menjelaskan peran arsitek dalam improvisasi dan perencanaan geometri ideal dan spasial pada arsitektur masjid Ottoman pada abad 16, yang mengacu pada korelasi beberapa aspek. Naser menjelaskan korelasi tersebut menjadikan ruang interior masjid menjadi terstruktur dengan baik dan nyaman seperti struktur, iluminasi, ventilasi, akustik dan ornamen.

 

Peran usaha Arsitek Sinan tersebut kemudian terkonsentrasi pada mayoritas masjid misalnya masjid Iskele, masjid Shehzade, masjid Suleymaniye, Masjid Rustem Pasha, Masjid Mihrimah Sultan, Masjid Mehmet Pasha di Istanbul dan Masjid Selimye di Edirne.

 

Naser mengungkapkan, Masalah pada riset ini adalah minimnya dokumentasi dalam arsip arsitektur Ottoman tentang Aplikasi Geometri Ideal. Namun, hal itu memberikan nilai sesungguhnya pada studi dan metode ini, yang mana informasi tersebut harus dikumpulkan. "Saya telah memilih dua metodeologi riset untuk mengumpulkan data dan menggambarkan kesimpulan yakni, interpretive Historical Research dan Case Study Research," terangnya.

 

Kesimpulannya menunjukkan keinginan Arsitek Sinan untuk mentransformasi tipologi masjid Ottoman dari yang terakumulasi ruang bangun berdekatan dengan pola jaring menuju ruang bangun yang menyatu pada diagram sentries. "Dengan demikian ruang interiornya nyaman dan berkelas," paparnya.

 

Menurut Naser, Masjid Ottoman telah memainkan kunci dalam improvisasi aplikasi geometri yang ideal. Aplikasi tersebut dipakai dalam pembuatan dan perencanaan ruang-ruang masjidnya. "Disertasi ini dapat dipertimbangkan sebagai sebuah dokumen untuk memahami arsitektur Ottoman melalui Geometri Ideal," paparnya. (ila/akh).

Galeri Foto Kegiatan


 

Contoh Format Laporan Tugas Akhir

Download

 


M Hatta dan Johan Silas Dapat Penghargaan Kemenpera

 

Housing-Estate.com, Jakarta - Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) untuk keenam kalinya memberikan penghargaan Adiupaya Puritama 2014 kepada tokoh dan pemerintah daerah yang berjasa dalam mengembangkan perumahan dan kawasan pemukiman.

“Tahun ini penghargaan untuk kategori tokoh diberikan kepada Wakil Presiden pertama Mohammad Hatta dan guru besar Teknik Arsitektur ITS Surabaya, Prof Johan Silas,” Sekretaris Kemenpera, Rildo Ananda Anwar,  kepada housing-estate.com saat acara penganugerahan Adiupaya Puritama 2014  di Jakarta, Kamis (25/9).

Foto Adiupaya Puritama

Untuk pemerintah daerah ada tiga kategori penghargaan, kabupaten, kota menengah/kecil, dan kota metropolitan/besar. Kategori kabupaten diberikan kepada Kabupaten Malang dan Bandung. Untuk kategori kota menengah/kecil penerimanya Kota Cirebon dan Palu, sementara kategori kota metropolitan/besar diberikan kepada Kota Bandung, Jambi, dan Jakarta Timur.

Menurut Rildo, tim penilai penghargaan ini terdiri atas  pakar dari Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Lingkungan Hidup, Real Estat Indonesia (REI), dan sebagainya.  Penilainya orang-orang yang mengerti mengenai pembangunan perumahan dan permukiman, bukan dari Kemenpera. “Ini untuk memberikan apresiasi kepada seluruh pemangku kepentingan yang telah mengupayakan pemenuhan kebutuhan rumah yang layak khususnya bagi kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR),” ujarnya.

Pemberian penghargaan ini juga merupakan puncak acara Hari Perumahan Nasional (Hapernas) yang jatuh setiap tanggal 25 September. Sebelum acara puncak ini Kemenpera telah melakukan rangkaian acara Hapernas mulai bazar, aksi sosial, diskusi, dan pameran rumah murah.

Sumber: www.housing-estate.com


 

Prestasi Mahasiswa Arsitektur

1st prize winner, International FutureArc Prize Design Competition 2014 students category, atas nama:
a. Theodorus Mulyanandrio Wicaksono
b. Frederikson Tarigan
c. Galuh Pramesti
d. Galuh Sabdo Aji.

Sekilas tentang sayembara desain ini:

Water and the City | Designing for Survival and Well-Being

Water is a hot-button issue resulting in conflicts between nations. Some 80% of us live in places facing water security problems. Scarcity in Asia, it seems, is partly due to insufficient sources or a dry climate. The Asian Development Bank, in its 2013 report on water development, speaks of complications arising from climate-related disasters and poor governance. Our homes, industries and neighbourhoods are not sophisticated enough to channel what is available. Governments are sometimes not smart enough to value what there is; sources are degraded, consumption can be wasteful and distribution ineffective.

The brief for FuturArc Prize 2014 calls for a new vision of the water in the city. At the building scale this may take the form of new typologies for sourcing, storage and recycling; or it may call a rethink of existing typologies such as homes and offices. At the urban scale, it might manifest itself through new networks or infrastructure that deal with flows and loops. The goal is in part sufficiency (therefore survival); it is also the well-being of settlements and the ecological systems that we depend on.
info lengkap dapat dilihat pada tautan:
http://www.futurarc.com/index.cfm/competitions/
http://www.futurarc.com/index.cfm/competitions/2014-fap-student-1st-prize-winner-indo/



Pemenang utama Kompetisi Nasional 'Arsitektur Rimpang', kerjasama Biro Arsitek Aboday Jakarta dan Jurusan Arsitektur Universitas Pelita Harapan Jakarta ,atas nama:

Firdiansyah Fathoni

Sekilas tentang kompetisi ini:

Abstrak
Salah satu potensi kuat di negara kita adalah industri informal nya. Industri informal dalam bentuk industri rumahan dapat dengan mudah ditemui di pelosok Indonesia. Industri rumahan atau industri kecil dapat dikatakan sebagai salah satu pembentuk ruang yang paling awal di Indonesia. Keberadannya bisa jadi sama tuanya dengan pasar-pasar tradisional yang ada. Lumpia di Semarang, Toko roti Tan Ek Tjoan di Cikini, Jakarta adalah contoh kecil dari bentuk kreatifitas mandiri masyarakat yang kemudian menjadi ciri dari suatu daerah.

Berbeda dari apa yang dikemukakan oleh Atelier Bow-Wow tentang Pet Architecture. Pet Architecture adalah sebuah nama yang diberikan oleh duet arsitek Yoshiharu Tsukamoto dan Momoyo Kajima untuk bangunan-bangunan yang mengisi ruang-ruang sisa di tengah kota. Bentuk dan luasan ruangan yang sedemikian kecilnya membuat bentuk bangunan menjadi unik dan penyelesaian masalah-masalah utilitas juga kreatif.

Pet Architecture bersifat introvert. Keberadaannya justru adalah reaksi dan konsekuensi dari mahal nya tanah dan padatnya penduduk di Jepang. Industri Rumahan disini adalah lawan dari Pet Architecture secara naturnya. Industri Rumahan bersifat ekstrovert. Keberadaannya justru membentuk jaringan, menjalar dan mempengaruhi struktur urban di tempat dia berada seperti rimpang dari batang tumbuhan.

Pada Kompetisi Nasional Mahasiswa Jurusan Arsitektur & ABODAY 2014 – ARSITEKTUR RIMPANG ini akan menitikberatkan pada kepekaan dan pemahaman pada jejaring ruang kota yang terbentuk akibat keberadaan industri rumahan tadi. Tiap peserta akan diminta untuk meneliti, membaca dan memahami bagaimana industri rumahan di tiap daerah masing-masing memberikan kontribusi pada pembentukan kualitas ruang-ruang kota di sekitarnya. Tujuan dari kompetisi ini adalah sebuah upaya penggalian visi dan konsep perencanaan dan perancangan daerah tersebut agar terjadi sebuah ruang-ruang publik yang baik dan nyaman. Peserta diperbolehkan untuk mengusulkan program baru namun tetap yang terpenting adalah membuat industri rumahan tersebut hidup.

info lengkap dapat dilihat pada tautan:
http://arch.sod.uph.edu/component/wmnews/new/34-kompetisi-nasional-mahasiswa-rimpang.html
http://properti.kompas.com/index.php/read/2014/07/12/115822821/its.dan.brawijaya.juarai.kompetisi.arsitektur.rimpang



Selamat Atas Prestasi yang diraih :

  • Dr. Eng Ir. Sri Nastiti N E, MT Sebagai Peringkat II Kaprodi Berprestasi Tingkat ITS
  • Susi Handayani, Amd Sebagai Peringkat II Pustakawan Berprestasi Tingkat ITS
  • Lisana Stidgina Sebagai Peringkat II Mahasiswa Berprestasi Tingkat ITS

 

Sidang Terbuka Promosi Doktor "Idawarni"

Opsi pembangunan yang dijalankan Pemerintah Daerah (Pemda) Makassar untuk mengatasi masalah permukiman nelayan di wilayah pesisir Untia tidak berjalan dengan baik. Program resettlement yang dijalankan Pemda hanya diterima oleh sepertiga dari populasi masyarakat Untia. Terdapat beberapa kelemahan dari program ini, antara lain belum mampu mendefinisikan konsep permukiman tradisional suku Makassar yang berbasis budaya dan gaya hidup di wilayah pesisir.

Hal tersebut disampaikan Idawarni, mahasiswa program doktoral Jurusan Arsitektur, pada sidang terbuka promosi doktor, Senin (8/7). Penelitiannya yang berjudul Permukiman Tradisional Suku Makassar Berbasis Budaya dan Gaya Hidup Sebagai Dasar Konsep Permukiman Resettlement Di Wilayah Pesisir ini berhasil mengevaluasi program yang telah dijalankan sejak 1995 ini. Penelitian ini sekaligus mengantarkan Idawarni meraih gelar doktor dengan predikat memuaskan.

Dalam penelitiannya, Idawarni mengungkapkan bahwa dalam program resettlement ini, nilai budaya masyarakat Bugis Makassar hampir tidak digunakan dalam membangun permukiman warga. Padahal menurut dosen Jurusan Arsitektur Universitas Hasanuddin (Unhas) ini, nilai-nilai budaya berperan penting dalam proses pembentukan permukiman dan rumah. Tidak heran, pada perkembangannya, banyak masyarakat Untia yang telah pindah ke wilayah resettlement memilih kembali ke wilayah asalnya.

Selain tidak mempertimbangkan aspek budaya, pemukiman resettlement juga mengesampingkan konsep gaya hidup sebagai bahan pertimbangan desain permukiman. Idawarni mengungkapkan, setidaknya terdapat beberapa hal yang harus dimasukkan sebagai bahan pertimbangan, antara lain: pekerjaan, pendidikan, usia, aktivitas harian dan kepercayaan masyarakat. ''Semuanya punya peran masing-masing. Aktivitas harian contohnya berperan dalam melahirkan perbedaan penggunaan ruang berdasarkan jenis kelamin dan usia,'' kata ibu tiga orang anak ini.

Idawarni mengusulkan, konsep pembangunan permukiman resettelement di masa mendatang harus memperhatikan beberapa aspek lain seperti perencanaan yang menghormati lingkungan alam dan pengaturan kreativitas manusia. Ia meninjau, pembangunan resettlement Untia telah menimbulkan berbagai kerusakan pada lingkungan seperti menipisnya hutan bakau dan terjadi pendangkalan oleh lumpur. ''Akibatnya kehidupan masyarakat terganggu dan mengubah sikap masyarakat,'' terang wanita kelahiran Ujung Pandang ini. (ram/fi)

>>> Galeri Foto Kegiatan


 

Studi Kolaborasi

Kegiatan Studi Kolaborasi antara Jurusan Arsitektur ITS Surabaya, ITB Bandung dan FH Erfurt Jerman

 

 

 

 


Next-->>

Dies Natalis 50, Arsitektur ITS Semakin Matang

01 September 2015 | 14.57 WIB

Jurusan Arsitektur ITS memasuki usia emas. Pada usia setengah abad, telah banyak kontribusi yang diberikan oleh bagian dari Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ini. Oleh sebab itu, guna memperingati hari jadi jurusan, sivitas akademika Jurusan Arsitektur ITS menggelar berbagai acara selama empat hari sejak Selasa (1/9). Perayaan dies natalis tersebut dibuka oleh Wakil Rektor I ITS, Prof Dr Ir Heru Setyawan MEng.

Dalam sambutannya, Heru menuturkan bahwa perayaan dies natalis ini dapat dijadikan momentum untuk mengapresiasi karya dan memperkuat jaringan para pegiat disiplin ilmu rancang bangun. Perayaan 50 tahun Arsitektur ITS ini dirasa juga cukup istimewa mengingat pelaksanaannya berbarengan dengan perayaan Dies Natalis ITS ke-55. "Saya sangat mengapresiasi perayaan ini, apalagi berbarengan dengan Dies Natalis ITS 55," ujar pria berkacamata ini.

Heru menambahkan, banyak kontribusi yang telah diberikan oleh Jurusan Arsitektur demi kemajuan ITS dan Indonesia. Salah satunya, ialah melahirkan arsitek-arsitek handal yang turut serta dalam menyokong pembangunan nasional.

Jurusan Arsitektur berdiri pada tahun 1965. Kala itu, jurusan ini masih menggunakan nama Fakultas Teknik Arsitektur (FTA) ITS. Dengan kondisi infrastruktur dan fasilitas yang masih minim, FTA dianggap memiliki banyak kekurangan sehingga kurang diminati. Namun seiring berjalannya waktu, pengembangan terus dilakukan hingga akhirnya menjadi salah satu jurusan favorit di ITS dan mengubah namanya menjadi Jurusan Arsitektur ITS.

Ketua Jurusan Arsitektur ITS, Ir Purwanita Setijanti MSc PhD menuturkan, perbedaan antara Jurusan Arsitektur sekarang dengan 50 tahun lalu tak hanya dari segi fasilitas dan jumlah mahasiswa, namun juga konteks belajar mahasiswa. Menurutnya, saat ini dunia makin terbuka, negara-negara hampir tanpa memiliki batas dan persaingan bebas antar bangsa menjadi ciri khas. "Oleh karenanya, Jurusan Arsitektur ITS harus siap menghadapi tantangan baru pada era baru pula," ujarnya.

Gambaran kontekstual yang disebut Purwanita ialah menuntut mahasiswa Jurusan Arsitektur ITS untuk bekerja keras. Tak hanya itu, ia juga mengharapkan agar mahasiswa Jurusan Arsitektur memiliki tekad untuk turut mengembangkan jurusan. "Kepada para mahasiswa, di tanganmu lah masa depan Arsitektur ITS, bangsa, dan negara bergantung. Bersiaplah menyongsong masa depan gemilang," ucapnya seraya mengakhiri sambutan.(owi/ali)