Kontak

Jurusan Arsitektur ITS
Kampus ITS Sukolilo
Surabaya 60111

Telp. (031) 5927290
(031) 5996972
Fax. (031) 5924301
E-Mail. Arsitektur

 

Berita & Info Terkini

Sidang Terbuka Promosi Doktor "Ima Defiana"

Kawasan beriklim tropis lembab identik dengan suhu udara serta kelembaban yang tinggi, terutama di siang hari. Kondisi ini menyebabkan suasana yang gerah, apalagi dalam bangunan yang tidak memiliki ventilasi yang baik. Hal ini juga menjadi tantangan bagi berbagai objek arsitektur di daerah tropis.

Prinsip piramida night ventilation menekankan pada penyejukan fisiologis bangunan melalui aliran angin pada malam hari. Penelitian dilakukan pada kompleks rumah sederhana tipe 60 yang memiliki jarak berdekatan antar bangunan. Jarak tersebut bisa menghalangi laju aliran angin ke dalam bangunan.


Demi mendukung teorinya, Ima tak hanya mempelajari prinsip-prinsip ventilasi. Selain teori permukiman, ia juga banyak meneliti tata ruang bangunan, ilmu termal, hingga ergonomi. Hasilnya, adalah serangkaian alternatif yang bisa diaplikasikan pada rumah-rumah sederhana.

Salah satunya adalah penggunaan material yang berbeda pada dinding pembatas antar rumah. ''Dibutuhkan dinding berpori yang memberikan celah pergerakan angin untuk membatasi setiap rumah,'' ujar ibu satu anak ini. Selain itu juga posisi ideal kamar tidur yang berorientasi ke bagian belakang rumah. Alasannya adalah karena halaman belakang rumah lebih luas sehingga keberadaan angin lebih banyak.

''Mencapai kenyamanan tempat tinggal di Surabaya memang selama ini dibatasi oleh kondisi sosial dan ekonomi masyarakatnya sendiri,'' papar wanita yang memperoleh gelar sarjananya dari Jurusan Arsitektur ITS pada tahun 1993. Meski begitu, Ima terus berkomitmen untuk tetap mengembangkan dan menerapkan penelitiannya bagi masyarakat. (ais/lis)


 

Sidang Terbuka Promosi Doktor "Sherly Asriany"

Senin (16/3),  Sherly Ariany ST MT resmi menyandang titel doktor setelah sukses mempertahankan disertasinya di hadapan tim penguji, Senin (16/4). Sidang disertasi Sherly yang berjudul Dinamika Ruang Publik Eksklusif dan Inklusif di Permukiman Masyarakat Menengah Ke Bawah Studi Kasus Permukiman Panakkukang Makassar itu berlangsung di Ruang Djelantik di Jurusan Arsitektur, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Sherly memaparkan hasil penelitian disertasinya di hadapan Tim Promotor yang terdiri dari Prof Ir Johan Silas, ketua promotor dan Ir Ispurwono Soemarno M Arch PhD, sebagai Co-Promotor. Sementara itu, tim penguji terdiri dari Prof Dr Ir Herman Wahyudi DEA, Dr Ing Ir Haryo Sulistyarso, dan Ir Basauli Umar Lubis MSA PhD.

Dalam disertasinya, Sherly mengulas soal pengembangan permukiman di Indonesia yang dalam perencanaannya cenderung mengabaikan urgensi ruang publik. Perencanaan yang tidak tepat dapat menimbulkan masalah tersendiri bagi masyarakat pemukiman. ''Padahal masyarakat kelas menengah ke bawah lebih sering menggunakan ruang publik untuk bersosialisasi,'' papar Sherly.

Untuk itulah, menurut Sherly diperlukan perencanaan yang benar dengan memperhatikan faktor dan karakteristik ruang publik yang inklusif dan eksklusif.  Dengan menggunakan analisa tipo-morfologi, Sherly menemukan adanya perbedaan karakteristik antara ruang publik inklusif dan eksklusif. ''Ruang publik inklusif memiliki karakter yang lebih dinamis dan aktivitas yang heterogen dibandingkan ruang publik eksklusif yang statis dan egaliter,'' kata Sherly.

Secara intensif, Sherly mengadakan studi penelitian di Makassar. Uniknya di daerah tersebut, meski masyarakatnya heterogen, perencanaan dan pengembangan pemukimannya tetap memegang aspek sosial. ''Makassar sebagai pintu gerbang perkembangan di Indonesia timur kini sedang mengalami perkembangan, sehingga banyak lahan yang sedang beralih fungsi,'' terang Sherly. Potensi masalah ini yang ia jadikan studi kasus utama dalam penelitiaanya.

Dua metode sekaligus ia gunakan dalam penelitian disertasinya. Perpaduan metode tersebut tersusun atas metode kualitataif dan kuantintatif. Selain itu, pendekatan sosiologi khususnya tentang ruang sosial juga ia gunakan. ''Penelitian yang sudah ada selama ini hanya menggunakan metode kualitatif sehingga menghasilkan teori yang kurang mendalam,'' kata wanita yang mengaku mahir berbahasa Sunda dan Gorontalo ini.

Dalam disertasi tersebut, Sherly menyebutkan bahwa permukiman masyarakat menengah ke bawah, karakteristik ruang eksklusif dan ruang inklusif ruang publiknya dipengaruhi oleh besaran ruang, bentuk ruang, batas ruang dan zonasi ruang. ''Di samping itu, budaya, kebiasaan dan pengalaman yang terjadi di masyarakat juga mempengaruhi pembentukan karakteristik tersebut,'' ujarnya.

Dari hasil penelitiannya, Sherly menilai ruang publik bukan sesuatu yang bersifat fisik, spasial, dan arsitektual saja. Ruang publik juga mengandung aspek sosial, budaya, ekonomi, hukum, dan hal-hal yang berkaitan dengan interaksi sosial dalam masyarakat permukiman.

Jika dirinya menggunakan basis ilmu sosio-arsitektur, hasil studinya ini dapat digunakan juga untuk basis ilmu lain yang ingin melakukan penelitian untuk kasus yang berkaitan dengan ruang publik. ''Ilmu sosial-antropologi nantinya juga dapat melakukan pengembangan untuk penelitian ini,'' ungkap wanita kelahiran Jayapura ini. (anl/fz)

>>> Galeri Foto Kegiatan


 

Sidang Terbuka Promosi Doktor "Nurhamdoko Bonfaicius"

Rabu (28/3), menjadi hari yang bersejarah untuk Nurhamdoko Bonifacus MT. Pasalnya, ia telah meraih gelar doktor dengan predikat sangat memuaskan. Dalam sidang doktor Jurusan Arsitektur, ia mempromosikan disertasinya yang berjudul Optimalisasi Kondisi Termal dan Pembangkitan Energi pada Atap Photovoltaic Terintegrasi di Daerah Tropis Lembab.

Jauh hari sebelum pria yang kerap disapa Boni ini menjadi doktor, ia berpikir bahwa menjadi doktor adalah tingkatan yang tertinggi dari seorang peneliti. Namun, malam hari sebelum sidang doktor dilaksanakan, ia tersadar filosofinya tentang doktor selama ini salah. Ia sadar bahwa dengan menjadi doktor, ia seolah menjadi bayi peneliti yang baru saja lahir. ''Berarti bayi itu harus melakukan banyak penelitian lagi,'' tandasnya.

Boni telah mendalami tentang photovoltaic, yang lebih dikenal dengan atap sel surya sejak sembilan tahun silam. Sel surya memanfaatkan matahari sebagai pembangkit listriknya. Jika digunakan menjadi atap, maka seluruh listrik di dalam rumah tersebut menggunakan listrik dari energi matahari.

Setelah dihitung dan dibandingkan harganya, menggunakan atap sel surya lebih murah daripada suplai listrik dari PLN. Atap tersebut pun dapat digunakan hingga puluhan tahun lamanya. ''Hanya saja, berat di awal untuk membeli atapnya,'' ujarnya.

Dalam disertasinya, pria asal Malang ini mengangkat tentang perpaduan antara atap sel surya dan isolasi konveksi. Dengan perpaduan tersebut, ruangan dalam rumah menjadi nyaman, dingin, serta pembangkit listriknya lebih tinggi.

Namun, atap sel surya cukup mahal harganya. Setiap watt-nya dipatok harga sebesar tiga dolar Amerika. Itulah yang membuat atap sel surya tidak populer di Indonesia. Oleh karena itu, Boni menggagas sebuah sistem kredit kepemilikan atap sel surya. Menurutnya, sistem kreditnya sama seperti orang membeli sebuah rumah. ''Dengan atap sel surya, pemilik rumah tidak perlu listrik dari PLN,'' tuturnya.

Indonesia dinilai cukup berpotensi untuk menerapkan atap sel surya. Intensitas munculnya matahari di Indonesia lebih besar dan lama jika dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia. Tidak hanya itu, iklim tropis yang membuat banyak angin berhembus di Indonesia pun mendukung. Boni menegaskan lagi dengan fakta bahwa negara yang sebagian tahunnya tertutup salju pun telah menerapkan atap sel surya.

Disisi lain, Indonesia merupakan negara kepulauan. Hal tersebut menyebabkan setiap pulau harus memiliki pembangkit listrik masing-masing. Di Pulau Jawa misalnya, menggunakan diesel sebagai pembangkit listriknya. Sedangkan diesel juga membutuhkan solar untuk berkerja. ''Ini sekaligus dapat menjawab demo Bahan Bakar Minyak (BBM) yang marak akhir-akhir ini,'' tukasnya sambil tersenyum.

Ingin Membuat Laboratorium
Menurut Boni, dalam melakukan publikasi karya ilmiah, seorang doktor harus memiliki laboratoriumnya sendiri. Kemudian, menghasilkan banyak riset dan membuat proposal operasional yang dikirim ke Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) RI maupun industri. Oleh karena itu, selepas mendapatkan gelar doktornya, ia bercita-cita  untuk membuat sebuah laboratorium arsitektur surya dan mengembangkan banyak riset.

Boni telah melakukan delapan kali seminar internasional untuk mempublikasikan karya ilmiahnya. Tidak puas hanya sebatas seminar, ia ingin memasyarakatkan atap sel surya di Indonesia. Terutama kepada masyarakat kelas menengah ke bawah.

Untuk itulah, desain atap sel surya itu ia buat sangat sederhana, rancangannya sama dengan atap konvensional. Yang berbeda hanya rangka yang digunakan untuk memasangnya. ''Sehingga tukang biasa di desa pun dapat memasangnya,'' tuturnya.

Menurutnya, listrik bersifat liquid, sama seperti uang. Jika uang dapat digunakan untuk membeli barang apapun, listrik dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam aktivitas. Misalnya, dengan listrik, kulkas dapat mendinginkan makanan, dan lampu dapat menerangi kegelapan. Tidak hanya itu, listrik adalah salah satu faktor terpenting dalam berjalannya sebuah negara. ''Sebuah negara akan lumpuh jika listriknya dipadamkan hanya dalam empat hari,'' tegasnya.

Dengan disertasinya, Boni turut berharap listrik di Indonesia murah harganya. Dengan listrik murah, maka segalanya akan ikut murah. ''Sebab segala proses produksi membutuhkan listrik,'' tutupnya. (fin/esy)

>>> Galeri Foto Kegiatan


 

Design Development Workshop Kampung and Graveyard PENELEH

Bermula dari sebuah kampung, kawasan Peneleh yang berkembang sejak abad ke 15 ini menjadi saksi sejarah perjuangan dan perkembang kota Surabaya. Beberapa tokoh nasional, seperti HOS Cokroaminoto dan Sukarno, menetap di Kampung Peneleh. Beberapa bangunan di kawasan Peneleh juga telah terdaftar sebagai bangunan cagar budaya Kota Surabaya, antara lain mesjid yang pernah di singgahi Sunan Ampel sebelum menetap di dukuh Ampel. Namun penanganan yang kurang terpadu membuat potensi kawasan tidak terkelola secara maksimal. Permukiman penduduk yang padat di kampung kota lama Surabaya, membutuhkan ruang terbuka untuk aktifitas sosial diluar rumah. Disisi lain, terdapat ruang terbuka berupa makam lama, yang tidak terawat dan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal oleh penduduk kampung.

Dalam rangka menangani permasalahan diatas, Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surabaya dan the Netherlands Cultural Heritage Agency (Ministry of Education, Culture and Science) mengadakan workshop desain konsep pengembangan/penataan kawasan Peneleh secara terpadu antara kampung dan makam dengan memperhatikan nilai estetis dan simbol yang menjadi kekhasan makam Peneleh, serta lokasi kampung yang berada dipinggir sungai Kalimas.

Peserta workshop meliputi mahasiswa arsitektur S1 dan S2 dari ITS dan perguruan tinggi swasta di Surabaya dengan pemateri dan mentor dari ITS, UNair dan Belanda, yaitu:
1.    Prof. Ir, Johan Silas – ITS
2.    Wahyu Setyawan, ST, MT - ITS
3.    Ir. Andy Mappajaya, MT - ITS
4.    Sarkawi M. Husein, SS, Mhum - Universitas Airlangga
5.    Drs. Jean-Paul Corten - The Netherlands Cultural Heritage Agency (Ministry of Education, Culture and Science)
6.    Prof. Dr. Ir. Paul Meurs,  TU/DELF
7.    drs. J.F. Versnel - ICOMOS-Netherlands
8.    ir. M. Dercx - Strootman Landscape Architects
9.    drs. L.A.H. Bok Bureau - Funeraire Adviezen
10.    ing. M. van Zeijl De Blije - Morgen Landscape Architeture

Workshop desain konsep pengembangan/penataan kawasan Peneleh berjalan dari hari Kamis, 27 Oktober 2011 sampai Rabu, 2 November 2011. Pembukaan workshop dilaksanakan di Ruang Djelantik, Jurusan Arsitektur Lt.2 Kampus Institut Teknologi 10 Nopember, Sukolilo, Surabaya dalam bentuk kuliah umum di buka oleh Sekretaris I Pemerintah Kota Surabaya, mewakili Walikota Surabaya.

Penutupan workshop diadakan di Rg. Pola, Kantor Badan Perencanaan Kota Surabaya lt. 3, Jl. Pacar 8. Pada kegiatan ini dipaparkan hasil analisa pakar dari lapangan terhadap kondisi di lapangan dan konsep desain yang dihasilkan mahasiswa selama workshop kepada dinas-dinas terkait.

>>> Galeri Foto Kegiatan




Seminar Nasional & Kompetisi Karya Tugas Akhir Ke VIII

Lomba Tugas Akhir (TA) kembali digelar oleh jurusan Arsitektur ITS. Kegiatan yang dilakukan setiap tahun ini merupakan yang kedelapan kalinya. Hari Jumat (28/10) merupakan penentuan para pemenang dari delapan nominator mahasiswa.

Mereka berasal dari berbagai universitas, dan telah diseleksi terlebih dahulu di institusi masing-masing. Tahun ini, jumlah peserta total meningkat menjadi 30 orang dari 11 universitas. ''Ini sangat menggembirakan,'' ungkap Ketua Jurusan Arsitektur, Ir Purwanita Setijanti, MSc PhD.Para peserta terbagi dalam dua kategori, yaitu Pragmatik dan Tematik. Para peserta yang tergabung dalam kategori Pragmatik lebih menonjolkan solusi dari permasalahan desain mereka. Sementara peserta dalam kategori Tematik berlomba menyuguhkan filosofi tema yang menyeluruh dalam desain mereka.

Karya mereka beragam, mulai dari convention hall hingga pusat hemodialisa. Uniknya, dalam kategori Tematik, dua peserta menyuguhkan karya yang sama-sama menggunakan dasar tema dari tumbuhan mangrove Rhizophora apiculata.

Baiq Lisa Wahyulina dari Universitas Negeri Sebelas Maret menerapkan inspirasi dari akar nafas mangrove dalam rancangan berjudul Galeri Ekspedisi Bengawan Solo. Sementara Ridho Prawiro dari ITS memunculkannya dalam rancangan laboratorium riset di daerah Wonorejo, Surabaya.

Tahun ini pula, tim juri terdiri dari para arsitek praktisi serta akademisi. Mereka adalah Dr Ir I Gusti Ngurah Antaryama, Unggul Roseno Gianto, IAI, serta Avianti Armand. Mereka dipimpin oleh Danny Wicaksono, arsitek serta pendiri majalah online Jong Arsitek.

Di awal acara, Danny turut memberikan kuliah umum terkait dengan peran arsitek muda. ''Arsitek dituntut untuk mengerti banyak hal, dan merancang bukanlah suatu hal yang dapat diformulasikan secara rigid,'' ungkapnya.

Terbukti, saat presentasi, para juri menilai karya nominator dengan sangat teliti. Pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan lebih dari sekedar desain arsitektural, namun juga  mengenai hubungan antara karya dengan lingkungan sekitar.

Dari hasil penilaian terakhir, ITS berhasil meraih juara ketiga dari dua kategori tersebut. Adinda Sih P R U memenangkannya di kategori Pragmatik dengan judul karya Griya Hemodialisa Malang. Sementara Ridho Prawiro meraihnya di bidang Tematik. Juara harapan bidang Tematik juga diraih oleh Delta Yogo Perdana dengan karya Kampung Ilmu Surabaya. (lis/fi)

>>> Galeri Foto Kegiatan




Seminar Nasional dan Workshop LAPAS IDEAL

Bertempat di Ruang Sidang Lantai 1 Gedung  Rektorat ITS Surabaya, Laboratorium Lansekap Arsitektur, Jurusan Arsitektur FTSP Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya menyelenggarakan Seminar Nasional dan Workshop LAPAS IDEAL, sebagai gagasan/ide penataan tapak Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang ideal sebagai rekomendasi kepada Pemerintah dalam upaya pembangunan pemasyarakatan pada hari Sabtu, 17 September 2011 lalu.

Seminar dan workshop ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa arsitektur dan menambah pengetahuan mengenai keanekaragaman elemen-elemen dan isu arsitektur yang ada dan dibutuhkan terutama untuk bangunan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) serta sebagai bentuk pelaksanaan kurikulum dalam Jurusan Arsitektur yang memiliki daya kompetitif di tingkat internasional dan mengembangkan budaya lokal.

Kegiatan seminar nasional mengetengahkan pembicara-pembicara antara lain Djoko Hikmahadi, Bc.IP,SH (Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Timur), Aman Riyadi , S.IP,SH,M.Si. (Kabag Program dan laporan pada Sesditjen PAS), Ir. Purwo Ardoko (Arsitek /Perencana Lapas),dan  Ir. Ganif Wijayana, IAI (Arsitek/Perencana Lapas). Keempat pembicara mengetengahkan tema LAPAS dalam berbagai perspektif .  Acara Seminar Nasional tersebut juga mengetengahkan karya mahasiswa Tugas Akhir Jurusan Arsitektur ITS Surabaya yang menjadikan LAPAS sebagai tema rancangan.


Acara workshop keesokan harinya dilaksanakan di Jurusan Arsitektur FTSP ITS Surabaya dengan materi konsep/tema LAPAS dengan bahasan berdasarkan pengamatan atas kondisi sesungguhnya ke Lapas Kelas 1 Surabaya yang berada Porong.
Diikuti oleh mahasiswa-mahasiswa arsitektur ITS Surabaya, workshop ini diharapkan dapat memberikan dasar penerapan pokok-pokok pedoman pemikiran dalam rancang bangun bangunan pemasyarakatan.

Serangkaian acara tersebut kemudian diakhiri dengan presentasi desain peserta workshop pada sore harinya.

>>> Galery foto kegiatan


 

Studio Rakyat 2011
Tugu Pahlawan diliputi berbagai kegiatan menarik. Selain bazaar dan pameran karya arsitektural, ada pula kegiatan workshop Kamera Lubang Jarum (KLJ). Kegiatan ini dibarengi oleh Diskusi Desain Arsitektur kedua yang menghadirkan tim Mangrove RhizophoraChitectuer (MRaC).

Semuanya sesuai dengan tema acara mengenai paradigma perjalanan arsitektur dari masa ke masa. KLJ membuka paradigma para peserta workshop bahwa fotografi tak selamanya identik dengan peralatan mahal. "Sebuah foto bisa dihasilkan hanya dengan cara sederhana," ungkap Diah Kusuma Ningrum, salah satu pemandu workshop tersebut.Alat yang ditunjukkan Diah memang cukup sederhana. Sebuah kaleng bekas rokok yang telah dihitamkan sisi-sisinya, baik dalam maupun luarnya. Salah satu sisi kaleng dilubangi, dan ditutup oleh selembar aluminium foil dengan setitik lubang jarum.


Cara penggunaannya pun sederhana. Setelah diisi dengan film foto, 'kamera' diletakkan di suatu tempat, lubang pada foil aluminium menghadap objek yang ingin dipotret. Kamera dibiarkan selama beberapa detik. "Kalau sedikit mendung, bisa ditinggal sampai sekitar satu menit," jelas Diah lagi.

Setelahnya, film tersebut dicuci dalam beberapa larutan kimia. Perlahan-lahan akan muncul gambar pada film tersebut. Pengambilan gambar yang tepat akan menghasilkan gambar hitam-putih sempurna, serupa pengambilan gambar dengan kamera biasa yang berlensa wide-angle.

Acara ini pun semakin meriah ketika masuk sesi Diskusi Desain Arsitektur kedua yang menghadirkan tim MRaC. Tim yang diinisiasi oleh beberapa mahasiswa Arsitektur ITS ini telah bergelut dengan ide biomaterial dari mangrove sejak tahun 2009. "Tidak selalu mudah untuk menjelaskan ide tersebut kepada orang lain, apalagi untuk membuktikannya," tutur Ridho Prawiro, ketua tim.

Menurutnya, tak jarang orang yang mendengarnya pesimis. Ini karena pengertian masyarakat pada umumnya mengenai arsitektur ataupun bangunan sering terbatas pada material-material 'mati', seperti semen, beton dan baja. Bahkan di kalangan para arsitek sendiri pun, belum banyak yang berpikir mengenai arsitektur alami seperti konsep MRaC.

Namun hal itu justru yang menantang tim MRaC untuk melanjutkan eksplorasi mereka, dan membuktikan teori-teori mereka mengenai ruang arsitektural di lahan mangrove. Menurut salah satu anggota MRaC, Arya Brima Nuansa, "Tiga puluh tahun lagi, ide ini sangat mungkin untuk diterapkan di daerah pesisir atau offshore," paparnya. (lis/nrf)




Jelajah Arsitektur Kota Lama dengan Bersepeda
04 Juni 2011

Bersepeda memang menjadi tren positif di tengah polusi udara di kota Surabaya. Sabtu (4/6) pagi, Himpunan Mahasiswa Sthapati Arsitektur, dalam rangkaian acara Studio Rakyat 2011, menggaet beberapa komunitas sepeda dan dosen serta mahasiswa untuk bersepeda keliling arsitektur kota lama Surabaya.

Bertajuk Architecture's Pedalling Day, acara ini dibuka pukul 06.00 oleh Ketua Jurusan Arsitektur, Purwanita Setijanti MSc, PhD. Para peserta gowes (bersepeda, red) memulai start dari kampus Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan finish di area Tugu Pahlawan Surabaya

Beberapa warisan arsitektur yang dikunjungi antara lain Monumen Kapal Selam (Monkasel), Delta Plasa (Plasa Surabaya), Monumen Bambu Runcing, Patung Karapan Sapi, Gereja Kepanjen, Gedung PTPN art-deco, Gedung Internatio, Jembatan Merah, Gedung Niaga.

"Beberapa komunitas sepeda Surabaya seperti Keputih Pancal Club, Komunitas Sepeda D'Pesok, SPITS, dan Komunitas Fixie turut meramaikan acara," tutur Mohammad Amrozi selaku panitia acara Studio Rakyat.

Setelah sampai di area Tugu Pahlawan, para peserta menukarkan kupon snack dan minuman serta memasukan kupon undian untuk Doorprize. hadiah terbesarnya adalah sepeda gunung. Hadiah tersebut diserahkan langsung oleh Purwanita.

Usai pembagian Doorprize, dilanjutkan dengan penampilan Band, serta Architecture Mozaic Competition (Lomba mosaik keramik untuk umum). Pameran fotografi, desain ulang pos polisi, Diskusi Desain Arsitektur (D'DEST) yang dibawakan oleh mahasiswa Arsitektur yang tergabung dalam Tim MRaC (Mangrove RizhoporaChitecture).(ers.yud)


 

Serunya Diskusi Desain Arsitektur di Tugu Pahlawan
03 Juni 2011

Setelah sukses dengan seminar bertajuk Arsitektur dalam Perspektif Kehidupan Manusia bersama Marco Wijayakusuma dan Workshop Kamera Lubang Jarum pada pagi harinya, rentetan acara Studio Rakyat pun dilanjutkan dengan D'DEST sore harinya.  Profesor senior ITS, Prof Johan Silas memulai sesi diskusi dengan mengangkat topik City Uplight: Eksotisme Lampu-Lampu Kota Surabaya Malam Hari.

Dalam diskusi tersebut, Silas, yang juga guru besar Jurusan Arsitektur ITS memaparkan bahwa Surabaya merupakan satu-satunya kota yang memiliki urban farming (pertanian di kota, red). Keragaman ini merupakan kekayaan kota ini. Selain itu, dalam diskusinya Silas juga mengemukakan beberapa program-program pemerintah kota, seperti Festival Pasar Surabaya, Program Kampung Unggulan, pembangunan taman-taman kota, dan lain-lain.

''Kalau Jakarta memakai busway, maka Surabaya akan memakai tramway,'' ungkap Silas. Hal tersebut berkenaan dengan pertanyaan dari penanya tentang transportasi Surabaya ke depannya.

Selain diskusi ini, para peserta juga dapat melihat-lihat ke sekeliling kompleks Tugu Pahlawan. Hal ini dikarenakan terdapat pameran karya-karya mahasiswa, baik seni instalasi, tugas besar, maupun tugas akhir. Selain itu juga terdapat pameran karya peserta lomba fotografi serta pameran redesain Pos Polisi Sthapati Peduli Negeri 2011.

Tak mau kalah dengan seniornya, Defry Agatha Ardianta ST MT dan Endy Yudho Prasetyo ST MT selaku dosen muda Jurusan Arsitektur ITS mengadakan diskusi bertajuk Green Architecture Must Die.

Defry dan Endy mengawali acara dengan sekian banyak slide berupa prolog tentang green erchitecture. Bila disimpulkan, green grchitecture adalah sebuah pendekatan desain yang tidak menimbulkan dampak buruk atau membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan. Arsitek atau desainer yang "green" mencoba untuk melindungi serta menjaga udara, air, bumi dengan menggunakan material bangunan yang eco-friendly (ramah lingkungan) dan praktek konstruksinya.

Endy mengawalinya dengan menunjukkan slide bergambar sebuah rumah kecil, berdinding dan  beratap rumput. Dalam pemaparannya, Endy menjelaskan bahwa konsep green architecture saat ini sudah banyak digunakan oleh berbagai pihak untuk 'menjual' desainnya.

Lebih lanjut, Endy menekankan, konsep ini sebenarnya tidak sekedar rumah atau gedung berwarna hijau. "Green architecture meminimalisasi dampak yang merugikan dengan pendekatan alam," ujarnya.

Di akhir presentasinya, Endy dengan mantap menyimpulkan bahwa konsep green architecture adalah sebuah keharusan. "Karena merupakan sebuah keharusan, green architectur must die!" ujarnya.

Sebagai diskusi yang kali pertama digelar oleh Jurusan Arsitektur, banyak peserta yang terinspirasi dari acara ini. "Topik-topik D'Dest tadi sangat menarik. Ternyata isinya lebih bagus lagi, membuka wawasan saya tentang sisi lain dunia arsitektur. Sayangnya yang datang kebanyakan orang Arsitektur ITS saja," pungkas Rahma Sakinah, salah seorang peserta yang juga mahasiswi Arsitektur ITS. (ers/hoe)


 

MAMNU Arsitektur 2011

"One Night Circus" Jalan masuk ke jurusan Arsitektur dinaungi kerai merah besar. Pendatang seolah sedang masuk ke sebuah tenda sirkus raksasa. Di baliknya, plasa rumput diubah menjadi arena sirkus.

Lampu-lampu kecil gemerlapan di berbagai penjuru. Panggung yang hitam seolah menyerupai kandang pertunjukan hewan sirkus. Ada seekor harimau dari karton yang menjaganya.

Orang-orang di sekitar arena pun tak kalah uniknya. Ada seorang pesulap dengan mantel hitam, topi dan tongkatnya. Ada badut dengan hidung merah dan senyum lebarnya. Sekelompok badut pantomim dengan kaos putih hitam bergaris-garis dan sarung tangan putih berkeliling menjajakan makanan. Mereka tak berbicara sama sekali, hanya menggunakan bahasa isyarat.

'Sirkus' memang menjadi tema Malam Anugerah (Mamnu) jurusan Arsitektur. Mamnu merupakan ajang malam keakraban terbesar setiap tahun di jurusan Asitektur. ''Tema one night circus ini dimaksudkan untuk mengawali akhir pekan yang meriah dan colourful,'' ungkap ketua panitia Yusuf Ariyanto.

Selama bertahun-tahun, Mamnu memang bukan sekadar malam keakraban biasa. Malam ini selalu dibarengi dengan sebuah tema khusus, di mana semua kreasi yang ditampilkan harus mengikuti tema tersebut.

Setiap angkatan berlomba-lomba menunjukkan kreasi terbaiknya. ''Dari tahun ke tahun, kreasi tema yang ditampilkan berbeda-beda dan amat kreatif,'' ungkap Ir Sri Nastiti N E M Eng, dosen sekaligus sekretaris jurusan Arsitektur ITS.

Kepala jurusan Arsitektur, Ir Purwanita Setijanti MSc PhD menanggapi pernyataan tersebut. Menurutnya, yang sangat dinikmati adalah suasana berbeda yang selalu berusaha untuk ditampilkan oleh mahasiswa.

Bermacam-macam kreasi mahasiswa ditampilkan di acara tersebut. Mulai dari seni musik (band), hingga film persembahan setiap angkatan. Selain itu, ada pula berbagai penghargaan unik. Mulai dari dosen terdisiplin hingga mahasiswa ter-alay.

Tak hanya mahasiswa yang menikmatinya, dosen dan para alumni pun turut hadir. Ada yang membawa keluarganya pula. Bagi mereka, Mamnu merupakan kesempatan untuk bersilaturrahmi setelah lama terpisah.(lis/hoe)


 

Sayembara Desain Rumah

Acara yang diselenggarakan oleh tabloid RUMAH bekerja sama dengan PT. Semen Gresik Tbk., di Jakarta Design Center ini  di ikuti  oleh mahasiswa Arsitektur seluruh Indonesia. Acara yang bertemakan Rumah Kokoh Aman Gempa ini diharapkan mampu menyaring calon – calon arsitek untuk menuangkan ide -  ide kreatifnya.

Tak kurang dari 449 karya yang masuk untuk dilombakan, yang kemudian disaring oleh 5 juri yang terdiri dari Eko Prawoto (Dosen Arsitektur Universitas Duta Wacana ), Yuskar Lase (Dosen Teknik Sipil Universitas Indonesia), Arief Sabaruddin (Peneliti Puslitbankim Departemen Pekerjaan Umum), Irfan Hidayat (arsitek dari Redaksi Tabloid RUMAH) menjadi 155 karya pilihan. Di tahap selamjutnya, juri pun dengan cermat memilih 20 semifinalis untuk menentukan 5 besar. Diantara kelima finalis tersebut terdapat mahasiswa Arsitektur FTSP – ITS

Rumah Bambu Beton Berserat tema yang diambil oloh “Ridho Prawiro” mahasiswa asal Lamongan angkatan 2006 ini berhasil menyisikan  449  karya lainya untuk lolos ke final.

Setelah kelima finalis mempresentasikan karyanya dan untuk memberikan waktu penilaian terhadap juri, tabloid RUMAH menghadirkan Budi Pradono, Seorang arsitek ternama di negri ini

“kalah menang harus siap, tapi yang penting adalah pengalaman yang menyenangkan dalam berkompetisi dan mendapatkan teman baru dari berbagai perguruan tinggi” itulah kesan – kesan dari Ridho Prawiro yang disampaikan diantara 170 mahasiswa jurusan Arsitek dan Sipil se-Indonesia yang hadir di Jakarta Design Center. Setelah batas watku penilaian juri telah usai, pada akhirnya Ridho Prawiro berhasil meraih juara ke tiga.(foto ridho :3 dari kiri)

 


 

Hary Suwanda Berbagi Tips Kesuskesan Menjadi Mahasiswa
20 April 2011

Hary Suwanda ST MM, salah satu alumni ber-Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) cumlaude dari angkatan 1989 ini berkunjung ke kampus Arsitektur pada Rabu (20/4) siang. Presentasi life planning (perencanaan hidup, red) sebagai mantan mahasiswa Arsitektur dan juga sebagai Arsitek, Hary bawakan dengan apik nan menghibur. Dosen-dosen pun turut datang pada kuliah tamu anak didiknya tersebut

Suaranya lantang. Sesekali candaan yang ia bawakan mampu membuat para hadirin tertawa. Chief Executive Officer (CEO) Lumen Capital Resourses yang sudah menerbitkan sebuah buku ini selama kurang lebih dua jam berbagi pengalaman hidupnya dan memotivasi para hadirin. Namun, ia sekarang tak bekerja menjadi arsitek lagi. Kini ia justru menjadi motivator, trainer, public speaker, serta stock, options & Forex trader.

''Apa saya ini salah jurusan?,''  tanyanya kepada diri sendiri saat masih menjadi mahasiswa baru Jurusan Arsitektur waktu itu. Namun, saat diwisuda tahun 1993, Hary malah menorehkan prestasi membanggakan, lulus dengan predikat cumlaude. Ialah menjadi satu-satunya wakil dari Jurusan Arsitektur sekaligus wakil dari Fakultas Teknik Sipil dan Perencanan (FTSP) yang ber-IPK cumlaude saat itu.

''Saya mau kita semua punya goal. Kalau tidak punya goal, kita tidak bakal sukses. Setidaknya, 1 goal yang spesifik. Tanpa tujuan yang jelas dan spesifik, tidak akan ada kesuksesan di sana,'' papar Hary mengawali kuliah tamu tersebut.

Hary juga membuka wawasan para hadirin dengan karya-karya arsitektur terkenal dunia. Mulai dari Frank Gehry, hingga Michael Graves. Lebih lanjut, Hary menunjukkan pengertian istilah Arsitektur, yang semakin meluas penggunaannya. Ia pun membawa para hadirin kepada kisah hidupnya, lebih spesifik, saat menjadi mahasiswa arsitektur dahulu. Para mahasiswa arsitektur kebanyakan menurutnya, sibuk dengan mendesain bangunan. Namun tidak pernah sibuk memikirkan masa depannya. Terbukti, tugas-tugas yang banyak membuat para mahasiswa arsitektur selalu begadang.

''Satu hal yang saya sesali. Pada mata kuliah Rupa Dasar 2, mata kuliah nukang, saya mendapatkan nilai D dan tidak dapat diulang di semester berikutnya,'' ujarnya. Sempat berpikir salah jurusan. Namun seiring waktu berjalan, ia percaya pada satu hal, Tuhan tidak pernah salah menempatkan kita.

Hary pun melanjutkan dengan menjelaskan faktor kunci untuk membuat goal atau tujuan hidup, pertama, goal tersebut harus spektakuler dan super. Goal yang dicapai dengan sebuah perjuangan. ''Goal saya pertama kali ketika masuk ke Jurusan Arsitektur adalah lulus dengan predikat Cumlaude,'' tutur Hary.

''Jaman dulu, cumlaude adalah sebuah kemustahilan,'' katanya. Namun Hary berpikir bahwa, nothing is impossible. Ia bisa membuktikannya dengan berusaha merangkap mata kuliah Studio Perancangan Arsitektur dan mata kuliah Sains Bangunan 1 dan 2. Sebenarnya, bila dihitung-hitung, hanya dengan nilai C, ia sudah bisa lulus cumlaude. Namun, ia tidak ingin mempermalukan nama jurusannya. Oleh karena itu, ia mati-matian fokus mengerjakan tugas akhirnya.

Apa rahasianya? Nonton TV hanya seminggu sekali, di hari Minggu. Di luar itu, ia fokus terhadap tujuannya, yang saat itu ditempuh dengan menyelesaikan mata kuliah Studio Perancangan Tugas Akhir.

Setiap hari ia bertemu mentornya, Prof Dr Ir Josef Prijotomo M Arch untuk asistensi. Selain itu, ia juga asistensi ke banyak dosen. Menurutnya, hal itu cukup ampuh bila diterapkan oleh mahasiswa, karena kita tidak akan tahu siapa dosen penguji saat tugas akhir.

Dalam presentasinya, Hary juga memberikan beberapa trik ‘mengakali’ dosen. ''Anda mesti tahu dosen ini maunya apa. Kalau dosen minta 1, kita beri 2. Kalau dosen minta 2, kita beri 3. Begitu seterusnya. Dalam hal jumlah dan kualitas harus jauh di atas standar,'' ujar Hary bersemangat.

''Buatlah mata dosen terbelalak menyaksikan karya Anda. Terlebih, buatlah dosen berkata 'Wow' pada karya Anda,'' imbuhnya. Ia juga menjelaskan standar penilaian saat kuliah, meliputi nilai A yang terbaik, hingga E yang terburuk. Saat di dunia luar atau dunia kerja nanti, nilai itu sudah tidak berlaku.

Strategi Meraih Goal
Menurutnya, strategi dalam meraih goal adalah: Fokus dan komitmen. Berulang-ulang, Hary meyakinkan dan memotivasi para mahasiswa yang hadir untuk mau dan bisa lulus Cumlaude, IPK lebih dari 3,5. Ia juga menghimbau para mahasiswa agar menghindari zona nyaman, ''Zona nyaman mahasiswa  adalah film, TV, dan cangkruk,'' ujarnya. Kontan, para mahasiswa tertawa terbahak-bahak. Kenyamanan adalah sebuah buaian maut menuju kesuksesan.

Strategi yang ketiga, bagi tujuan besarmu menjadi tujuan-tujuan kecil. Setiap kali FRS ke dosen wali, harus jebol indeks prestasi lebih dari 3,00. Tanpa skor C. Jangan pernah berpikir tidak mungkin dan susah. Strategi selanjutnya adalah selalu berkarya tanpa henti, konsisten, dan gigih. Jangan pernah fokus di masalah, namun solusinya.

Sempat memutarkan video singkat tentang Liu Wei, pemenang China Got Talent. Seorang anak yang tidak mempunyai kedua tangan. Ia juga memaparkan keberhasilannya berhenti merokok. ''Saya berhenti merokok karena MLM tersebut. Katanya, orang yang merokok tidak bisa bernafas dengan baik saat presentasi,'' ujarnya. Oleh karena itu, dengan niat yang kuat, ia berhenti merokok hingga saat ini.

''Semua bisa didesain, karena Tuhan memberikan kita kekuatan untuk mendesain hidup kita. Kalian adalah arsitek dari kehidupan kalian sendiri,'' pungkas Hary.

Kuliah tamu seperti yang Hary bawakan sangat jarang ada di Jurusan Arsitektur. ''Sebaiknya acara semacam ini diadakan setahun sekali,'' ujar Febby Rahmatullah Masruchin, mahasiswa angkatan 2010.


 

Bicycle Lane and Pedestrian Way Planning

Christian J. Dimeling mahasiswa asal San Fransisco State University Jurusan Urban Planning Amerika ini telah satu bulan lebih berada di Surabaya khususnya di ITS ini untuk melakukan penelitian tentang jalur khusus sepeda dan pejalan kaki.

Tak kurang lima puluh orang mahasiswa maupun dosen datang ke Ruang Sidang Djelantik untuk menyaksikan diskusi penelitian yang bertema tentang Bicycle Lane and Pedestrian Way Planning.

Dalam presentasinya, Chris memaparkan sejumlah materi pokok yaitu , traffic calming, Sustainable Transportation and Design: pedestrian, bicycle. Materinya berisi tentang Better Streets Plan: traffic calming, bike lane, bike lane conflicts, bicycle boulevard, separated lanes/paths, bike box, dan lain-lain.

Pada awalnya, ia menjelaskan mengapa harus sepeda. Alasannya simpel. Sepeda didesain untuk anak dari usia 8 hingga 80 tahun. Saat ini ada sekitar 1,4 milyar sepeda di dunia. Tak hanya itu,  Ia juga mengemukakan pentingnya cycle track (jalur khusus sepeda), yaitu agar keamanan meningkat dan meminimalisasi pelanggaran di jalan. Kecepatan mengendara maksimum di ITS, 40 km/jam ini cukup tinggi menurutnya.

Menurut Chris, ITS bisa membangun jalur sepeda. Namun, terdapat beberapa jalan yang kondisinya memprihatinkan dan membahayakan yang harus dibenahi. Ia juga menjelaskan bahwa halte sepeda harus berada di area dekat pintu masuk kampus, bangunan akademik, fasilitas rekreasi, dan student services. Agar memiliki sistem bike-share (Sepeda Kampus) yang baik, mahasiswa ITS harus berhati-hati terhadap program tersebut. Cukup mahal pada pelaksanaannya.

Dalam presentasinya, ia juga mencontohkan gambar-gambar tentang kondisi jalan, baik jalur sepeda maupun jalan untuk pejalan kaki di Barcelona, Seattle, Pennsylvania, California, dan San Fransisco, kota asalnya.


Untuk dapat memberlakukan program ini, ITS juga sebaiknya meningkatkan jumlah pohon untuk mengatasi panasnya udara di Surabaya, memberlakukan denda pada pelanggar, serta membangun penyeberangan pejalan kaki. Ia menuturkan pula bahwa Massachusets Institute of Technology (MIT) telah mengaplikasikan program ini.

Chris berkata, "Median dan pulau jalan dapat menenangkan lalu lintas dan mengamankan pejalan kaki." Selain itu, lebar untuk jalur sepeda yang baik sekitar 1,5 - 2 m. Jalur sepeda dapat dicat hijau, biru, atau tidak dicat. Chris juga memaparkan bahwa On-road bicycle lanes mengurangi resiko kecelakaan sekitar 50%.


Laporan Kegiatan Archiade

14 maret 2011

Di hari pertama pagelaran Archiade ini menggelar pertandingan futsal antara A43 vs 2009 yang dilaksanakan di lapangan futsal PLN ITS. Untuk pertandingan futsal ini berlangsung 2x20 menit. bendera Sthapati dibentangkan untuk menambah semangat para pejuang angkatan. Namun, ketika pertandingan baru berjalan 14 menit, tiba-tiba hujan turun membuat pertandingan sementara di hentikan. Tetapi, dengan batas waktu yang ditentukan dan kondisi cuaca yang tidak memungkinkan, akhirnya pertandingan ini di tunda dan akan diganti hari lain dengan pembicaraan lebih lanjut oleh panitia dan wakil angkatan untuk menentukan dan mencari waktu penggantinya.



15 Maret 2011

Hari kedua Archiade di isi oleh pertandingan basket cowok dan cewek, dengan jadwal A43 vs 2009 dan A41++ vs A42. Meskipun terjadi keterlambatan, tetapi pertandingan dapat berlangsung dengan baik.

Team cowok dari A43 dan 2009 bertanding terlebih dahulu dengan 4 x 15 menit. Pertandingan berlangsung seru dengan teriakan-teriakan supporter dari maisng-masing angkatan. Namun, kelihatan sekali perbedaan kekuatan antara kedua team, permainan di dominasi oleh 2009 karena memang di angkatan ini mayoritas yang ikut bertanding adalah anak “basket”. Pada akhirnya angkatan 2009 menang atas A43 dengan skor yang jauh yaitu 34-12.

Setelah pertandingan team basket cowok kemudian di susul oleh team basket cewek dengan permainan 3 on 3 dengan waktu 2 x 5 menit. Angkatan A43 sekali lagi harus mendapatkan kekalahan dari angkatan 2009 dengan skor 6-1.

Setelah pertandingan basket cewek, dilanjutkan lagi pertandingan team basket cowok A41++ vs A42, meskipun A41++ kekurangan pemain tetapi semangatnya tidak kalah dengan angkatan yang lebih muda. Pertandingan kali ini berjalan imbang ditandai dengan skor yang tidak beda jauh dan saling susul menyusul. Tean A41++ harus kerja lebih ekstra karena mereka tidak memiliki pemain cadangan. Setelah bermain selama 4 quarter akhirnya pertandingan dimenangkan oleh A41++ dengan skor 30-27. Ini merupakan pertandingan terakhir karena tidak ada team cewek untuk wakil A41++.

 

17 Maret 2011

Pada hari kamis tanggal 17 maret seharusnya ada 3 pertandingan yaitu pertandingan team basket cowok A42 Vs 2009, A43 Vs A41++ dan team basket cewek A42 vs 2009. Namun hanya terjadi 2 pertandingan karena A41++ tidak hadir dalam pertandingan karena sebab khusus dan pertandingan antara team basket cowok A43 vs A41++ akan dibicarakan lebih lanjut oleh panitia dengan angkatan yang bersangkutan. Terjadi keterlambatan dalam pelaksanaan pertandingan seperti hari sebelumnya namun diluar itu pertandingan berlangsung baik dan lancar.

Team basket cowok bertanding terlebih dahulu, selama 4 quarter. Diawal-awal pertandingan A42 sempat unggul dari 2009. Namun, di quarter-quarter selanjutnya 2009 berhasil menyusul angka. Pertandingan berlangsung seru dan menegangkan karena kedua team saling susul menyusul. Namun, akhirnya pertandingan dimenangkan oleh angkatan 2009 dengan skor 52-34. Di pertandingan team basket cewek, A42 membalas kekalahan dengan memenangkan pertandingan basket cewek dari 2009 dengan skor 5-3.


 

 

Pembukaan Archiade

Pembukaan Archiade di adakan di Plaza rumput di jurusan arsitektur pada hari pertama pertandingan Archiade yaitu tanggal 14 maret 2011 pada pukul 15.30 wib, setengah jam sebelum pertandingan yang pertama.

Pembukaan ini dihadiri oleh panitia, wakil dari tiap-tiap angkatan dan untuk wakil dari jurusan hadir Bu Purwanita , Ketua jurusan Arsitektur bersama Pak Rullan, bendahara Jurusan Arsitektur yang baik hati karena telah mendanai acara archiade ini.

Acara ini dibuka dengan amat sederhana dengan kata sambutan dan wejangan-wejangan dari Bu Purwanita serta Pak Rullan. Dan beliau berdua pada intinya mengatakan bahwa jurusan mendukung acara kompetisi keolahragaan seperti ini untuk meningkatkan persaingan sehat dalam bidang olahraga  dan mengingatkan kembali kepada mahasiswa bahwa olahraga itu sangat penting disamping tugas-tugas kuliah dan urusan akademik.

Dengan berakhirnya sambutan dari Kedua orang penting di jurusan Arsitektur ini maka otomatis acara Archiade telah dibuka. Setelah acara pembukaan ini seluruh peserta pertandingan serta supporter dari masing-masing angkatan bersiap berangkat ke lapangan tempat di adakannya pertandingan yang pertama.


 

Pelatihan Penelitian dan Penulisan Ilmiah Berskala Internasional.

Jurusan Arsitektur ITS Surabaya Bekerja sama dengan Balai Pengembangan Teknologi Permukiman Tradisional (BPTPT) Denpasar untuk melaksanakan kegiatan Pelatihan Penelitian dan Penulisan Ilmiah Berskala Internasional selama lima hari, mulai tanggal 28 Februari hingga 4 Maret 2011.

Acara ini diselenggarakan oleh Laboratorium Perkembangan Struktur dan Konstruksi Jurusan Arsitektur dengan tiga belas peserta berasal dari instansi – instansi dibawah Kementrian Pekerjaan Umum dari tiga daerah di Indonesia, yaitu Balai PTPT Denpasar, Balai PTPT Makasar dan Loka Teknologi Permukiman Medan, dan dengan panduan pembicara oleh pakar pakar di bidangnya.

Secara khusus Dr. Ir. Galih Widjil Pangarsa, DEA dan Prof. Dr. Ir Josef Prijotomo, M.Arch menekankan pentingnya pemahaman peserta pelatihan akan proses sistematik yang tepat dalam penelitian dapat memicu penelitian lanjutan serta memberikan dasar bagi perumusan konsep serta implementasinya. Ir. M. Faqih, MSA, PhD sebagai Pembicara ke tiga memaparkan bahwa luasnya cakupan Arsitektur memberikan konsekuensi logis bahwa penelitian – penelitian di bidang Arsitektur akan selalu menumpahkan penelitian yang bersifat multi disipliner.


Di hari kedua peserta di ajak langsung ke lapangan unruk merekam fenomena – fenomena masyarakat sebagai sumber tema penelitian yang bertempat di Mojokerto dan Madura. Di hari ketiga peserta memaparkan kesimpulan pengamatan di lapangan untuk kemudian ditetepkan sebagai dasar untuk memilih metoda penelitian yang sesuai

Sesuai dengan tema pelatihan yang memberikan gambaran  tentang tujuan dilaksanakan pelatihan yaitu memberikan dasar kompetensi bagi peserta untuk dapat menuliskan hasil penelitian ilmiah di jurnal jurnal internasional dengan kualifikasi tulisan yang layak terbit, materi penulisan Artikel Jurnal Internasional disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Sarwoko Mangkoedihardjo, guru besar dari jurusan Teknik Lingkungan FTSP ITS Surabaya.

Pada hari ke empat, materi latihan penulisan dengan membuat scenario penulisan, disampaikan oleh Dr. Ir Murni Rachmawati, MT dan kemudian dilanjutkan dengan analisis judul yang dipandu oleh Dr. Ir. Galih Widjil Pangarsa, DEA. Keseluruhan rangkaina acara ini akan di akhiri pada hari jumat 4 Maret 2011, dengan harapan bahwa acara – acara serupa dapat dilaksanakan sebagai bagian dari program yang menitikberatkan pada upaya peningkatan kualitas penelitian – penelitian di bidang Arsitektur di masa – masa yang akan datang



Selasa, 1 Maret 2011
Sidang Terbuka Promosi Doktor Naidah Naing
Dengan Judul Disertasi "Permukiman Berpindah Dalam Sistem Rumah Mengapung Sebagai Proses Adaptasi Manusia Dengan Lingkungan Didanau Tempe Sulawesi Selatan

ABSTRAK
Permukiman berpindah dalam sistem rumah mengapung di Danau Tempe memiliki karakteristik spesifik. Permukiman sering berpindah-pindah/bergeser mengikuti kondisi air danau yang banjir dan kekeringan, membentuk pola permukiman yang tidak tetap/ berubah-ubah sesuai perubahan musim, dan bentuk arsitektur serta tata ruang yang unik. Namun demikian, kemampuan penghuninya untuk melakukan berbagai proses adaptasi dengan alam dan lingkungan, menjadikan permukiman ini

tetap bertahan terhadap lingkungan di atas air. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami dinamika pengaturan lokasi bermukim, tata letak permukiman, tata ruang dalam rumah mengapung dan mengetahui proses adaptasi komunitas pemukimnya terhadap alam dan lingkungan permukiman di  Danau Tempe.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan arsitektur (artefak) dan etnografi (budaya bermukim). Penggabungan kedua pendekatan ini diharapkan akan menghasilkan sebuah penelitian etno-arsitektur, sehingga hasil penelitian ini tidak hanya berupa artefak (jejak fisik dari permukiman) tetapi lebih menjurus dalam menggali makna dari budaya bermukim yang berkembang di atas air. Teknik analisis yang digunakan adalah model Spradley dengan aktivitas analisis data meliputi analisis domain, taksonomi, komponensial dan tema kultural.

Selengkapnya...


Jumat, 18 Februari 2011
Mapping and DASS42 (Depression Scale, Anxiety Scale and Stress Scale)
Oleh: ASS. Prof Regan Potangaroa, PhD

Workshop ini mengetengahkan salah satu metode pengukuran ilmia melalui intenvew dan kuisioner yang secara kualitatif dapat memberikan acuan / parameter terukur dalam mendapatkan data dan analisa data yang terkait dengan pendekatan psikologi-lingkungan (tingkat depresi, tingkat harapan dan tingkat stress didalam sebuah lingkungan-bina) dalam kajian arsitektur.

metode parametik yang diperkenalkan dalam workshop ini dikenal dengan nama DASS42, yang pertama kali digunakan dan disusun sebagai sebuah pendekatan ilmiah oleh Dr. Peter Lovibond, University of Newcastle, Australia.

DASS42 merupakan metode yang secara efektif telah digunakan dalam desain permukiman pasca bencana Tsunami di Aceh Indonesia beberapa waktu silam.

Metode ini secara akurat dapat digunakan pula dalam proses desain, yaitu pada programing



Rabu, 16 Februari 2011
Architectural Meaning of Place
Oleh: ASS. Prof Regan Potangaroa, PhD

Mengetengahkan tema “Architectural Meaning of Place” yang secara umum membahas bagaimana terbentuknya makna sebuah bangunan dalam lingkungan-bina tertentu

Dengan mengambil studi kasus di beberapa negara yang pernah mengalami bencana alam, seperti Tsunami di Indonesia dan gempa bumi di Haiti, dapat diambil pemahaman akan adanya pola kegiatan di dalam ruang, yang dapat dikaji melalui metode analisis Space – Syntax, yang memberikan makna sehingga ruang (space) dapat di pahami sebagai wadah berkegiatan (place)